Kolonialisme Inggris terhadap India

 Sejarah Kolonialisme Inggris di India Vassco da Gamma adalah orang kulit putih pertama yang mendarat di India pada tahun 1498, tepatnya di Calicut. Selanjutnya orang-orang kulit putih yang lain seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Perancis datang berlomba-lomba untuk berdagang di India. Ratu Elizabeth dari Inggris sudah berusaha menjalin hubungan baik dengan India sejak pemerintahan Akbar. Ratu tersebut pernah meminta kepada Sutlan Akbar agar Inggris mendapat kesempatan yang sebanyak-banyaknya untuk berdagang di India. Akhirnya pada tahun 1600 Inggris berhasil mendirikan “English East India Company” (EIC) kemudian menyusul Prancis mendirikan “Compaignie des Indes” dan juga Belanda mendirikan “Verinigde Oost Indische” (VOC). Mereka makin bersaing dengan ketat, tidak hanya berdagang tetapi mereka juga meperluas daerah kekuasaannya. Namun Belanda mengundurakan dirinya dari India karena kedudukanya di indonesia semakin stabil dan kuat, sehingga situasi tersebut memperkokoh kekuatan Inggris di India. Inggris berhasil mendapatkan kota-kota : Surat (Gunjarat, 1612), Madras (1639), Bombay (1661), Calcutta (1690), dan Perancis mendapatkan kota-kota : Surat (1664), Pondicherry (1673), Chandranagar (1688). Kota-kota ini hendak dijadikan pangkalan-pangkalan untuk merebut India. Tetapi karena pada waktu itu kerajaan Mongol masih kuat sekali, Inggris dan Perancis belum berani bergerak meluas ke-pedalaman. Mereka satu abad lamanya tetap tinggal berdangang ditempat-tempat itu saja. Tetapi dengan wafatnya Aurangzeb, raja mongol, pada tahun 1707, kerajaan mongol mundur dan pecah-pecah. Sekaranglah Inggris dan Perancis mulai meluaskan daerahnya kepedalaman, Perancis dibawah Dupleix dibagian Deccan, dan Inggris di bawah Robert Clive dibangian Benggala. Dua negara Imperalis ini kemudian saling langar-melanggar dan timbullah perang berebutan tanah jajahan antara dua negara ini. Tetapi dengan dipanggilnya kembali Dupleix oleh Perancis, Inggrislah yang akhirnya menang. Dilain pihak timbul peperangan antara raja Persia dan kaum Maratha. Situasi kacau ini memperkokoh kekuatan Inggris di India. Sementara karena Dupleix dipanggil kembali ke Perancis, akhirnya kedudukan inggris di India semakin kuat. Beberapa faktor yang mempermudah Inggris untuk segera menguasai India dengan pasti yaitu satu peristiwa penting yang paling menentukan adalah perang tujuh tahun (1756-1763) antara Inggris dan Perancis yang menjalar sampai ke Amerika dan India akhirnya dimenangkan oleh Inggris. Dengan kemenangan ini Inggris memperkuat daerah jajahannya yang dipimpin oleh Robert Clive, sejak saat itu mulailah kekuasaan tunggal Inggris di India karena Perancis menyerahkan semua daerah kekuasaannya kepada Inggris. Robert Clive terkenal sebagai peletak dasar imperialism Inggris di India. Nama Robert Clive makin harum ketika ia berhasil mengatasi “The Tragedy of The Black Hole” di India. Peristiwa itu terjadi karena Raja Benggala yang menyerang tentara Inggris di daerahnya. dalam waktu 6 hari Inggris berhasil dikalahkan dan 140 orang tawanan disekap dalam satu kamar penjara yang kecil. Akhirnya 120 orang meninggal di dalam penjara yang pengap itu, 20 orang Inggris sisanya dapat diselamatkan Clive dengan tipu muslihat kepada raja Benggala itu. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1760 dia diberi gelar Lord Clive. Dia dikembalikan di India pada tahun 1764-1767. Kedatangannya ini justru menghancurkan nama harumnya karena dia dituduh memperkaya diri sendiri. akhir hidupnya dia bunuh diri karena malu. Dia digantikan oleh Warrent Hastings (1767-1784). Pada masa pemerintahan Hastings tidak berjalan mulus karena ia menghadapi tantangan dari dua arah yaitu dari kaum Maratha di India dan dari pemerintahan Inggris sendiri. Ia tidak hanya memperbesar kongsi dagangnya tetapi juga berusaha keras untuk mendirikan daerah jajahan Inggris di India. Dalam merealisasikan cia-citanya ia menghalalkan segara cara dan hal ini mengakibatkan kebencian yang mendalam di kalangan rakyat India. Dilain pihak karena keadaan keuangan yang makin buruk mengakibatkan pemerintahan Inggris untuk campur tangan di dalam perkembangan-perkembangan di India. Pada tahun 1773 pemerintah mengeluarkan suatu peraturan dengan nama Regulating Act. Untuk selanjutnya pekerjaan kompeni Inggris di India di dalam beberapa hal harus dahulu mendapat pengesahan dari pemerintah Inggris. Hasting yang tadinya bertindak dengan pendapat sendiri sekarang terkekang oleh peraturan-peraturan tersebut. Pemerintahannya harus melaksanakan bersama dengan suatu dewan. Keadaan keuangan yang kurang baik sangat melemahkan kekuasaan Inggris di India. Sehingga kadang-kadang jalan yang tidak luruspun dapat ia tempuh untuk mendapatkan uang. Para pejabat di Inggris banyak yang tidak setuju, diantara yang tidak setuju dengan politik Hastings adalah Perdana menteri Wiliam Pit. Hastings yang merasa politiknya selalu dihalang-halangi oleh pembesar Inggris meminta untuk mundur dari jabatannya dalam tahun 1784. Usaha Warrent Hastings di India mendapat banyak rintangan, akan tetapi di kalangan ilmu pengetahuan banyaklah jasanya, salah suatu usahanya yang penting dan paling berhasi adalah mempersiapkan sebuah peta baru di India, meskipun belum sempurna tetapi itu merupakan sesuatu yang baru dalam Ilmu pengetahuan, yang kemudian disempurnakan oleh Lord Wellesley yang memerintah tahun 1769-1805. Pada masa Lord Wellesley bertugas di India keadaan makin bertambah buruk apalagi terjadinya perang antara Inggris dan Napoleon memperburuk keadaan. Dengan tangan besi Ia mulai menjalankan suatu politik yang agresif terhadap raja-raja India. Ia mulai penghapusan kerajaan-kerajaan India yang masih merdeka. Pada tahun 1805 ia dipanggil kembali ke Inggris dan digantikan oleh Lord Minto. Kemudian pada tahun 1827 dilanjutkan dengan pemerintahan liberal di bawah Lord Bentinck. Tindakan yang pertama ia lakukan adalah penghematan. Peraturan-peraturan mengenai pegawai-pegawai dirubahnya dengan suatu peraturan baru yang tidak membeda-bedakan bangsa dan warna kulit. Salah satu tindakan yang ia lakukan ialah menghapus kebiasaan orang Hindu, yang terkenal dengan nama ”SATTI” yang merupakan suatu peraturan seorang janda untuk membakar diri dengan jenazah suaminya, pada waktu jenazah suaminya dibakar. Hal ini sangat mengharumkan namanya dikalangan bangsa India sendiri. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan pun ia bergerak lincah dengan memajukan perguruan di India. Meskipun Lord Bentinck ini dari kaum liberal tetapi ia tidak meliberalkan India secara utuh. Banyak usahanya yang memajukan bangsa India. Keadaan India sesudah Gubernur Jenderal Lord Bentinck mulai menjadi keruh. Maka timbulah pemberontakan dari raja India serta dari kaum India. Berikut ini ialah raja-raja yang menentang Inggris : Inggris tidak dengan mudah menguasai India. Raja-raja India melawannya dengan hebat, tetapi berkat kepandaian dalam tipu muslihat, Inggris dapat mengadu-dombakan mereka dan kemudian menguasainya (politik Divide et Impera). Raja-raja yang terkenal dalam perang melawan Inggris ialah : 1. Raja-raja Maratha ( di Deccan ) Tiga kali raja-raja Maratha mengadakan perang melawan Inggris yang disebut perang Maratha I,II, dan III. Inggris menderita kekalahan-kekalahan besar. Dalam perang Maratha ini yang sangat terkenal ialah : Tippu Sahid Maysore yang sangat gagah berani, musuh Inggris yang terbesar. Tiga kali Inggris di jatuhkan oleh Tippu Sahid hingga Inggris terpaksa meminta perdamaian. Tetapi akhirnya Tippu Sahid gugur dan Inggris lah yang menang. 2. Raja-raja Sikh ( di Punjab) Kerajaan Sikh di dirikan oleh Nana Punjab. Dibawah pemerintahan Goving Sigh maju dengan pesat dan mencapai puncak kekuaaan di bawah Ranjit Singh. Inggris tidak berani menyerang bangsa Sikh karena merasa kalah kuat, karena itu mereka menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan Sikh. Tetapi stelah Raja Singh wafat, pepecahan antara bangsa Sikh. Timbullah perang antara Sikh dan Inggris yang berakhir dengan kemenagan Inggris. Kerajaan Sikh lenyap (1849). Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny), sering disebut juga dengan pemberontakan Sepoy (prajurit) terhadap kolonialisme Inggris terjadi tahun 1857-1859. Pemberontakan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: 1. Penderitaan rakyat India akibat penjajahan Inggris. Pengangguran merajalela, orang-orang Inggris hidup mewah di India, sedangkan rakyat India menderita, lebih-lebih setelah orang India tahu bahwa Inggris sama sekali tidak memperhatikan nasib mereka. Sehingga menimbulkan kebencian rakyat India. 2. Perbedaan perlakuan terhadap serdadu-serdadu bangsa India di dalam kemiliteran Inggris sangat buruk sehingga melukai perasaan prajurit - prajurit India. 3. Serdadu-serdadu tersebut kemudian mempersatukan diri dengan rakyat karena mereka merasa bernasib sama yaitu disia-siakan Inggris, kemudian timbullah Perasaan yang sama, yakni anti inggris di hati rakyat dan serdadu-serdadu tersebut. Faktor-faktor tersebut menyebabkan pertentangan terhadap Inggris dan timbullah apa yang disebut Pemberontakan Serdadu-serdadu (Sepoy). Peristiwa di atas sebenarnya merupakan sebab umum pemberontakan, sedangkan sebab khusus Terjadinya Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny) adalah perintah Panglima tentara Inggris di India untuk menjilat ujung peluru terlebih dulu sebelum digunakan dengan tujuan menghilangkan lemak yang ada padanya. Prajurit yang beragama Hindu mengira bahwa lemak itu adalah lemak lembu. Bagi umat Hindu, lembu merupakan hewan suci yang tidak boleh disembelih atau dimakan. Karena itu perintah panglima Inggris dianggap menghina agama Hindu. Sementara prajurit yang beragama Islam mengira bahwa lemak itu adalah gemuk babi yang merupakan najis, menganggap perintah panglima Inggris sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Akibatnya timbullah pemberontakan tentara India terhadap Inggris. Pada tanggal 10 Mei 1857 meletuslah pemberontakan tangsi di Meerut dekat Delhi. Tentara India di Delhi bergerak dan segera seluruh India berontak. Semua orang Inggris yang ditemukan dibunuh. Raja Moghul Bahadur Shah diangkat menjadi raja Hindustan oleh pemberontak. Pusat pemberontakan beralih dari Delhi ke Jhansi di bekas kerajaan Maratha dan dipimpin oleh Ratu Ranee Lakhsmi Bai, seorang wanita yang gagah berani dan selalu memimpin sendiri pertempuran-pertempuran. Tentara Inggris takut menghadapi Ranee Lakhsmi Bai. Setelah Ranee Lakhsmi Bai gugur, pemimpin pemberontakan terkenal lainnya adalah Nana Sahib dengan Tantia Topi, panglimanya, yang menghabiskan orang-orang Inggris di Cownpore. Inggris di India hampir sama saja mengalami kehancuran. Namun berkat bantuan beberapa raja Hindu, yaitu raja-raja dari Nepal, Gwalior, dan Hyderabad, akhirnya dengan susah payah Inggris menang juga. Kerajaan Moghul dihapuskan pada tahun 1858. Akibat Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny) adalah : 1. Nasionalisme India mulai bangkit, sebab Ranee Lakhsmi Bai tidak lagi menganggap pemberontakan itu sebagai pemberontakan tentara India melawan Inggris, tapi sebagai perang kemerdekaan terhadap Inggris. 2. Membuka mata Inggris bahwa mereka harus merubah sikap politik terhadap India. Kolonialisme kolot harus ditinggalkan dan kepentingan rakyat India perlu diperhatikan juga. 3. East India Company (EIC) yang selama ini berkuasa di India dibubarkan pada tahun 1858. Tidak layak jika suatu kongsi dagang semacam EIC ( East India Company) memerintah suatu kerajaan besar seperti India. Pemerintahan di India dipegang langsung oleh Pemerintah Inggris di London. B. Pengaruh Kolonial Inggris Dalam Bidang Sosial Budaya di India Dampak kolonialisme Inggris terhadap India di bidang sosial-budaya, seperti banyaknya terjadi konflik atau kerusuhan antara rakyat India dengan Koloni Inggris yang sedang berkuasa. Tidak hanya itu pemerintah Inggris begitu membeda bedakan berdasakan ras dan kelompok sosial, sehingga diskriminasi terjadi tak terelakkan lagi. 2.2 Kolonialisme Belanda Terhadap Indonesia A. Sejarah Kolonialisme Bangsa Belanda di Indonesia Mendengar keberhasilan orang-orang Spanyol dan juga Portugis dalam menemukan daerah baru, apalagi daerah penghasil rempah-rempah, para pelaut dan pedagang Belanda tidak mau ketinggalan. Tahun 1594 Barents mencoba berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hindia melalui daerah kutub utara. Karena keyakinannya bahwa bumi bulat maka sekalipun dari utara atau barat akan sampai pula di timur. Ternyata Barents tidak begitu mengenal medan. Ia gagal melanjutkan penjelajahannya karena kapalnya terjepit es mengingat air di kutub utara sedang membeku. Barents terhenti di sebuah pulau yang disebut Novaya Zemlya. Ia berusaha kembali ke negerinya, tetapi ia meninggal di perjalanan. Pada tahun 1595 pelaut Belanda yang lain yakni Cornelis de Houtman dan Piter de Keyser memulai pelayaran. Kedua pelaut ini bersama armadanya dengan kekuatan empat kapal dan 249 awak kapal beserta 64 pucuk meriam melakukan pelayaran dan penjelajahan samudra untuk mencari tanah Hindia yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Cornelis de Houtman mengambil jalur laut yang sudah biasa dilalui orang-orang Portugis. Tahun 1596 Cornelis de Houtman beserta armadanya berhasil mencapai Kepulauan Nusantara. Ia dan rombongan mendarat di Banten. Sesuai dengan niatnya untuk berdagang maka kehadiran Cornelis de Houtman diterima baik oleh rakyat. Waktu itu di Kerajaan Banten bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdulkadir. Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil tanaman rempah-rempah di wilayah itu Cornelis de Houtman berambisi untuk memonopoli perdagangan di Banten. Dengan kesombongan dan kadang-kadang berlaku kasar, orang orang Belanda memaksakan kehendaknya. Hal ini tidak dapat diterima oleh rakyat dan penguasa Banten. Oleh karena itu, rakyat mulai membenci bahkan kemudian mengusir orang-orang Belanda itu. Cornelis de Houtman dan armadanya segera meninggalkan Banten dan akhirnya kembali ke Belanda. Ekspedisi penjelajahan berikutnya segera dipersiapkan untuk kembali menuju Kepulauan Nusantara. Rombongan kali ini dipimpin antara lain oleh van Heemskerck. Tahun 1598 van Heemskerck dengan armadanya sampai di Nusantara dan juga mendarat di Banten. Heemskerck dan anggotanya bersikap hati-hati dan lebih bersahabat. Rakyat Banten pun kembali menerima kedatangan orang-orang Belanda. Belanda mulai melakukan aktivitas perdagangan. Kapal-kapal mereka mulai berlayar ke timur dan singgah di Tuban. Dari Tuban pelayaran dilanjutkan ke timur menuju Maluku. Di bawah pimpinan Jacob van Neck mereka sampai di Maluku pada tahun 1599. Kedatangan orang-orang Belanda ini juga diterima baik oleh rakyat Maluku. Kebetulan waktu itu Maluku sedang konflik dengan orang-orang Portugis. Pelayaran dan perdagangan orang-orang Belanda di Maluku ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Dengan demikian semakin banyak kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Maluku. Uraian tersebut menunjukkan bahwa rakyat Indonesia senantiasa mau bersahabat dan berdagang dengan siapa saja atas dasar persamaan. Tetapi kalau para pedagang asing itu ingin memaksakan kehendak dan melakukan monopoli perdagangan di wilayah Nusantara tentu harus ditolak karena tidak sesuai dengan martabat rakyat Indonesia yang ingin berdaulat dalam hidup dan kehidupan termasuk dalam kegiatan perdagangan. Tujuan awal Belanda adalah untuk berdagang rempah-rempah, namun setelah mereka berhasil mendapatkan keuntungan melimpah serta menemukan daerah sumber rempah-rempah, Belanda mulai melakukan aksi monopoli perdagangan dan sejarah penjajahan Belanda di Indonesia pun dimulai. Tahun 1596 awal penjajahan Belanda di Nusantara dengan mendirikan persekutuan dagang yang bernama VOC (Vereeningde Oost-indische Compagnie) atau persekutuaan dagang India timur yang dibantu oleh pemerintahan Belanda. VOC menguasai dan mengekploitasi ekonomi di Indonesia dari tahun 1602 – 1799. Ketika terjadi peselisihan antara pangeran Jayakarta dan Banten dengan Belanda pada tahun 1619, kota Jayakarta dibakar oleh Belanda dibawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen. Tahun 1619 Belanda membangun kota di atas puing-puing Jayakarta yang diberi nama Batavia. Kekuasaan Belanda tahun 1799 diambil alih oleh pemerintah Belanda dari VOC. VOC mengalami kerugian yang besar yang menyebabkan kebangkrutan dan dibubarkan. Sebelumnya penjajahan Belanda atas Indonesia dilakukan oleh VOC, sejak tahun 1799 secara resmi dilakukan oleh pemerintahan Belanda. Berdasarkan Convention of London tahun 1814, Belanda berkuasa kembali di Indonesia setelah sempat sebelumnya tahun 1811 Inggris menyerang Hindia Belanda menaklukkan kota Batavia. Jendral Belanda Jansens menyerah tanpa syarat kepada Inggris. Tahun 1814 Inggris mengembalikan semua daerah jajahan Belanda ke pihak Belanda lagi. Peristiwa ini karena kalahnya Napoleon Bonapoarte kaisar Prancis dalam pertempuran di Leipzing Inggris menyerahkan Indonesia pada Belanda pada tahun 1816 saat itu yang menjadi pemimpin Inggris di Indonesia adalah Letnan Gubernur Jhon Fendhal. Penjajahan dan eksploitasi manusia dan sumber daya alam manusia dimulai lagi oleh pemerintah Belanda. Sistem eksploitasi yang dilakukan oleh Belanda disebut sistem tanan paksa. Pada masa dimana modal modal swasta liberal masuk ke Indonesia dan masa penerapan politik etis. B. Pengaruh Kolonial Belanda Dalam Bidang Sosial Budaya di Indonesia Pengaruh penjajah Belanda tampil misalnya dalam bentuk tertanam semakin kuatnya apa yang disebut mentalitas inlander. Pengaruh lain tampak dalam hal dikenalkannya pendidikan kepada kaum pribumi, bahasa, dan gaya hidup yang kebarat-baratan. a. Mentalitas Inlander Secara harfiah, mentalitas Inlander berarti mentalitas orang pribumi Indonesia, yang dikonotasikan secara negatif sebagai orang mengidap rasa rendah diri akut (inferiority complex) serta menakar diri lebih rendah dibandingkan orang-orang atau bangsa-bangsa lannya. Mentalitas Inlander disebut juga mentalitas khas orang pribumi karena dianggap telah mendarah daging serta menjadi bagian dari pola hidup dan perilaku rakyat Indonesia. Mentalitas itu mendarah daging karena dirawat dan dikembangkan oleh sistem yang juga melahirkannya, yaitu sistem feodalisme. Dalam rangka memperkuat mentalitas tersebut, Belanda menggolong-golongkan penduduk Indonesia kedalam kelas-kelas sosial sebagai berikut: • Kelas pertama, terdiri atas orang Belanda dan Eropa. • Kelas dua, terdiri atas orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen). • Kelas tiga, terdiri atas orang pribumi (Inlander). b. Pendidikan Sistem pendidikan Barat di Indonesia digarap oleh Belanda sejak abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia semakin banyak. Sistem pendidikan diselenggarakan oleh berbA.  Sejarah Kolonialisme Inggris di India

Vassco da Gamma adalah orang kulit putih pertama yang mendarat di India pada tahun 1498, tepatnya di Calicut. Selanjutnya orang-orang kulit putih yang lain seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Perancis datang berlomba-lomba untuk berdagang di India. Ratu Elizabeth dari Inggris sudah berusaha menjalin hubungan baik dengan India sejak pemerintahan Akbar. Ratu tersebut pernah meminta kepada Sutlan Akbar agar Inggris mendapat kesempatan yang sebanyak-banyaknya untuk berdagang di India. Akhirnya pada tahun 1600 Inggris berhasil mendirikan “English East India Company” (EIC) kemudian menyusul Prancis mendirikan “Compaignie des Indes” dan juga Belanda mendirikan “Verinigde Oost Indische” (VOC). Mereka makin bersaing dengan ketat, tidak hanya berdagang tetapi mereka juga meperluas daerah kekuasaannya. Namun Belanda mengundurakan dirinya dari India karena kedudukanya di indonesia semakin stabil dan kuat, sehingga situasi tersebut memperkokoh kekuatan Inggris di India.
Inggris berhasil mendapatkan kota-kota : Surat (Gunjarat, 1612), Madras (1639), Bombay (1661), Calcutta (1690), dan Perancis mendapatkan kota-kota : Surat (1664), Pondicherry (1673), Chandranagar (1688). Kota-kota ini hendak dijadikan pangkalan-pangkalan untuk merebut India. Tetapi karena pada waktu itu kerajaan Mongol masih kuat sekali, Inggris dan Perancis belum berani bergerak meluas ke-pedalaman. Mereka satu abad lamanya tetap tinggal berdangang ditempat-tempat itu saja. Tetapi dengan wafatnya Aurangzeb, raja mongol, pada tahun 1707, kerajaan mongol mundur dan pecah-pecah. Sekaranglah Inggris dan Perancis mulai meluaskan daerahnya kepedalaman, Perancis dibawah Dupleix dibagian Deccan, dan Inggris di bawah Robert Clive dibangian Benggala. Dua negara Imperalis ini kemudian saling langar-melanggar dan timbullah perang berebutan tanah jajahan antara dua negara ini. Tetapi dengan dipanggilnya kembali Dupleix oleh Perancis, Inggrislah yang akhirnya menang.
Dilain pihak timbul peperangan antara raja Persia dan kaum Maratha. Situasi kacau ini memperkokoh kekuatan Inggris di India. Sementara karena Dupleix dipanggil kembali ke Perancis, akhirnya kedudukan inggris di India semakin kuat.
Beberapa faktor yang mempermudah Inggris untuk segera menguasai India dengan pasti yaitu satu peristiwa penting yang paling menentukan adalah perang tujuh tahun (1756-1763) antara Inggris dan Perancis yang menjalar sampai ke Amerika dan India akhirnya dimenangkan oleh Inggris. Dengan kemenangan ini Inggris memperkuat daerah jajahannya yang dipimpin oleh Robert Clive, sejak saat itu mulailah kekuasaan tunggal Inggris di India karena Perancis menyerahkan semua daerah kekuasaannya kepada Inggris. Robert Clive terkenal sebagai peletak dasar imperialism Inggris di India. Nama Robert Clive makin harum ketika ia berhasil mengatasi “The Tragedy of The Black Hole” di India. Peristiwa itu terjadi karena Raja Benggala yang menyerang tentara Inggris di daerahnya. dalam waktu 6 hari Inggris berhasil dikalahkan dan 140 orang tawanan disekap dalam satu kamar penjara yang kecil.
Akhirnya 120 orang meninggal di dalam penjara yang pengap itu, 20 orang Inggris sisanya dapat diselamatkan Clive dengan tipu muslihat kepada raja Benggala itu. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1760 dia diberi gelar Lord Clive. Dia dikembalikan di India pada tahun 1764-1767. Kedatangannya ini justru menghancurkan nama harumnya karena dia dituduh memperkaya diri sendiri. akhir hidupnya dia bunuh diri karena malu. Dia digantikan oleh Warrent Hastings (1767-1784).
Pada masa pemerintahan Hastings tidak berjalan mulus karena ia menghadapi tantangan dari dua arah yaitu dari kaum Maratha di India dan dari pemerintahan Inggris sendiri. Ia tidak hanya memperbesar kongsi dagangnya tetapi juga berusaha keras untuk mendirikan daerah jajahan Inggris di India. Dalam merealisasikan cia-citanya ia menghalalkan segara cara dan hal ini mengakibatkan kebencian yang mendalam di kalangan rakyat India.
Dilain pihak karena keadaan keuangan yang makin buruk mengakibatkan pemerintahan Inggris untuk campur tangan di dalam perkembangan-perkembangan di India. Pada tahun 1773 pemerintah mengeluarkan suatu peraturan dengan nama Regulating Act. Untuk selanjutnya pekerjaan kompeni Inggris di India di dalam beberapa hal harus dahulu mendapat pengesahan dari pemerintah Inggris. Hasting yang tadinya bertindak dengan pendapat sendiri sekarang terkekang oleh peraturan-peraturan tersebut. Pemerintahannya harus melaksanakan bersama dengan suatu dewan.
Keadaan keuangan yang kurang baik sangat melemahkan kekuasaan Inggris di India. Sehingga kadang-kadang jalan yang tidak luruspun dapat ia tempuh untuk mendapatkan uang. Para pejabat di Inggris banyak yang tidak setuju, diantara yang tidak setuju dengan politik Hastings adalah Perdana menteri Wiliam Pit. Hastings yang merasa politiknya selalu dihalang-halangi oleh pembesar Inggris meminta untuk mundur dari jabatannya dalam tahun 1784.
Usaha Warrent Hastings di India mendapat banyak rintangan, akan tetapi di kalangan ilmu pengetahuan banyaklah jasanya, salah suatu usahanya yang penting dan paling berhasi adalah mempersiapkan sebuah peta baru di India, meskipun belum sempurna tetapi itu merupakan sesuatu yang baru dalam Ilmu pengetahuan, yang kemudian disempurnakan oleh Lord Wellesley yang memerintah tahun 1769-1805. 
Pada masa Lord Wellesley bertugas di India keadaan makin bertambah buruk apalagi terjadinya perang antara Inggris dan Napoleon memperburuk keadaan. Dengan tangan besi Ia mulai menjalankan suatu politik yang agresif terhadap raja-raja India. Ia mulai penghapusan kerajaan-kerajaan India yang masih merdeka. Pada tahun 1805 ia dipanggil kembali ke Inggris dan digantikan oleh Lord Minto. 
Kemudian pada tahun 1827 dilanjutkan dengan pemerintahan liberal di bawah Lord Bentinck. Tindakan yang pertama ia lakukan adalah penghematan. Peraturan-peraturan mengenai pegawai-pegawai dirubahnya dengan suatu peraturan baru yang tidak membeda-bedakan bangsa dan warna kulit. Salah satu tindakan yang ia lakukan ialah menghapus kebiasaan orang Hindu, yang terkenal dengan nama ”SATTI” yang merupakan suatu peraturan seorang janda untuk membakar diri dengan jenazah suaminya, pada waktu jenazah suaminya dibakar. Hal ini sangat mengharumkan namanya dikalangan bangsa India sendiri.
Dalam bidang Ilmu Pengetahuan pun ia bergerak lincah dengan memajukan perguruan di India. Meskipun Lord Bentinck ini dari kaum liberal tetapi ia tidak meliberalkan India secara utuh. Banyak usahanya yang memajukan bangsa India.
Keadaan India sesudah Gubernur Jenderal Lord Bentinck mulai menjadi keruh. Maka timbulah pemberontakan dari raja India serta dari kaum India. Berikut ini ialah raja-raja yang menentang Inggris :

Inggris tidak dengan mudah menguasai India. Raja-raja India melawannya dengan hebat, tetapi berkat kepandaian dalam tipu muslihat, Inggris dapat mengadu-dombakan mereka dan kemudian menguasainya (politik Divide et Impera). Raja-raja yang terkenal dalam perang melawan Inggris ialah :

1.  Raja-raja Maratha ( di Deccan )
Tiga kali raja-raja Maratha mengadakan perang melawan Inggris yang disebut perang Maratha I,II, dan III. Inggris menderita kekalahan-kekalahan besar. Dalam perang Maratha ini yang sangat terkenal ialah : Tippu Sahid Maysore yang sangat gagah berani, musuh Inggris yang terbesar. Tiga kali Inggris di jatuhkan oleh Tippu Sahid hingga Inggris terpaksa meminta perdamaian. Tetapi akhirnya Tippu Sahid gugur dan Inggris lah yang menang.
2.    Raja-raja Sikh ( di Punjab)
Kerajaan Sikh di dirikan oleh Nana Punjab. Dibawah pemerintahan Goving Sigh maju dengan pesat dan mencapai puncak kekuaaan di bawah Ranjit Singh. Inggris tidak berani menyerang bangsa Sikh karena merasa kalah kuat, karena itu mereka menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan Sikh. Tetapi stelah Raja Singh wafat, pepecahan antara bangsa Sikh. Timbullah perang antara Sikh dan Inggris yang berakhir dengan kemenagan Inggris. Kerajaan Sikh lenyap (1849).

Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny), sering disebut juga dengan pemberontakan Sepoy (prajurit) terhadap kolonialisme Inggris terjadi tahun 1857-1859. Pemberontakan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1.        Penderitaan rakyat India akibat penjajahan Inggris. Pengangguran merajalela, orang-orang Inggris hidup mewah di India, sedangkan rakyat India menderita, lebih-lebih setelah orang India tahu bahwa Inggris sama sekali tidak memperhatikan nasib  mereka. Sehingga menimbulkan kebencian rakyat India.
2.        Perbedaan perlakuan terhadap serdadu-serdadu bangsa India di dalam kemiliteran Inggris sangat buruk sehingga melukai perasaan prajurit - prajurit India.
3.        Serdadu-serdadu tersebut kemudian mempersatukan diri dengan rakyat karena mereka merasa bernasib sama yaitu disia-siakan Inggris, kemudian timbullah Perasaan yang sama, yakni anti inggris di hati rakyat dan serdadu-serdadu tersebut.
Faktor-faktor tersebut menyebabkan pertentangan terhadap Inggris dan timbullah apa yang disebut Pemberontakan Serdadu-serdadu (Sepoy). Peristiwa di atas sebenarnya merupakan sebab umum pemberontakan, sedangkan sebab khusus Terjadinya Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny) adalah perintah Panglima tentara Inggris di India untuk menjilat ujung peluru terlebih dulu sebelum digunakan dengan tujuan menghilangkan lemak yang ada padanya. Prajurit yang beragama Hindu mengira bahwa lemak itu adalah lemak lembu. Bagi umat Hindu, lembu merupakan hewan suci yang tidak boleh disembelih atau dimakan. Karena itu perintah panglima Inggris dianggap menghina agama Hindu. Sementara prajurit yang beragama Islam mengira bahwa lemak itu adalah gemuk babi yang merupakan najis, menganggap perintah panglima Inggris sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Akibatnya timbullah pemberontakan tentara India terhadap Inggris.
Pada tanggal 10 Mei 1857 meletuslah pemberontakan tangsi di Meerut dekat Delhi. Tentara India di Delhi bergerak dan segera seluruh India berontak. Semua orang Inggris yang ditemukan dibunuh. Raja Moghul Bahadur Shah diangkat menjadi raja Hindustan oleh pemberontak. Pusat pemberontakan beralih dari Delhi ke Jhansi di bekas kerajaan Maratha dan dipimpin oleh Ratu Ranee Lakhsmi Bai, seorang wanita yang gagah berani dan selalu memimpin sendiri pertempuran-pertempuran. Tentara Inggris takut menghadapi Ranee Lakhsmi Bai. Setelah Ranee Lakhsmi Bai gugur, pemimpin pemberontakan terkenal lainnya adalah Nana Sahib dengan Tantia Topi, panglimanya, yang menghabiskan orang-orang Inggris di Cownpore.
Inggris di India hampir sama saja mengalami kehancuran. Namun berkat bantuan beberapa raja Hindu, yaitu raja-raja dari Nepal, Gwalior, dan Hyderabad, akhirnya dengan susah payah Inggris menang juga. Kerajaan Moghul dihapuskan pada tahun 1858.

Akibat Pemberontakan Prajurit India (The Indian Mutiny) adalah :

1.      Nasionalisme India mulai bangkit, sebab Ranee Lakhsmi Bai tidak lagi menganggap pemberontakan itu sebagai pemberontakan tentara India melawan Inggris, tapi sebagai perang kemerdekaan terhadap Inggris.
2.      Membuka mata Inggris bahwa mereka harus merubah sikap politik terhadap India. Kolonialisme kolot harus ditinggalkan dan kepentingan rakyat India perlu diperhatikan juga.
3.      East India Company (EIC) yang selama ini berkuasa di India dibubarkan pada tahun 1858. Tidak layak jika suatu kongsi dagang semacam EIC ( East India Company) memerintah suatu kerajaan besar seperti India. Pemerintahan di India dipegang langsung oleh Pemerintah Inggris di London.
B. Pengaruh Kolonial Inggris Dalam Bidang Sosial Budaya di India
Dampak kolonialisme Inggris terhadap India di bidang sosial-budaya, seperti banyaknya terjadi konflik atau kerusuhan antara rakyat India dengan Koloni Inggris yang sedang berkuasa. Tidak hanya itu pemerintah Inggris begitu membeda bedakan berdasakan ras dan kelompok sosial, sehingga diskriminasi terjadi tak terelakkan lagi.[1]

2.2 Kolonialisme Belanda Terhadap Indonesia
A.    Sejarah Kolonialisme Bangsa Belanda di Indonesia
Mendengar keberhasilan orang-orang Spanyol dan juga Portugis dalam menemukan daerah baru, apalagi daerah penghasil rempah-rempah, para pelaut dan pedagang Belanda tidak mau ketinggalan. Tahun 1594 Barents mencoba berlayar untuk mencari dunia Timur atau Tanah Hindia melalui daerah kutub utara. Karena keyakinannya bahwa bumi bulat maka sekalipun dari utara atau barat akan sampai pula di timur. Ternyata Barents tidak begitu mengenal medan. Ia gagal melanjutkan penjelajahannya karena kapalnya terjepit es mengingat air di kutub utara sedang membeku. Barents terhenti di sebuah pulau yang disebut Novaya Zemlya. Ia berusaha kembali ke negerinya, tetapi ia meninggal di perjalanan.
Pada tahun 1595 pelaut Belanda yang lain yakni Cornelis de Houtman dan Piter de Keyser memulai pelayaran. Kedua pelaut ini bersama armadanya dengan kekuatan empat kapal dan 249 awak kapal beserta 64 pucuk meriam melakukan pelayaran dan penjelajahan samudra untuk mencari tanah Hindia yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Cornelis de Houtman mengambil jalur laut yang sudah biasa dilalui orang-orang Portugis. Tahun 1596 Cornelis de Houtman beserta armadanya berhasil mencapai Kepulauan Nusantara. Ia dan rombongan mendarat di Banten. Sesuai dengan niatnya untuk berdagang maka kehadiran Cornelis de Houtman diterima baik oleh rakyat. Waktu itu di Kerajaan Banten bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Abdul Mufakir Mahmud Abdulkadir. Dengan melihat pelabuhan Banten yang begitu strategis dan adanya hasil tanaman rempah-rempah di wilayah itu Cornelis de Houtman berambisi untuk memonopoli perdagangan di Banten. Dengan kesombongan dan kadang-kadang berlaku kasar, orang orang Belanda memaksakan kehendaknya. Hal ini tidak dapat diterima oleh rakyat dan penguasa Banten. Oleh karena itu, rakyat mulai membenci bahkan kemudian mengusir orang-orang Belanda itu. Cornelis de Houtman dan armadanya segera meninggalkan Banten dan akhirnya kembali ke Belanda.
Ekspedisi penjelajahan berikutnya segera dipersiapkan untuk kembali menuju Kepulauan Nusantara. Rombongan kali ini dipimpin antara lain oleh van Heemskerck. Tahun 1598 van Heemskerck dengan armadanya sampai di Nusantara dan juga mendarat di Banten. Heemskerck dan anggotanya bersikap hati-hati dan lebih bersahabat. Rakyat Banten pun kembali menerima kedatangan orang-orang Belanda. Belanda mulai melakukan aktivitas perdagangan. Kapal-kapal mereka mulai berlayar ke timur dan singgah di Tuban. Dari Tuban pelayaran dilanjutkan ke timur menuju Maluku.
Di bawah pimpinan Jacob van Neck mereka sampai di Maluku pada tahun 1599. Kedatangan orang-orang Belanda ini juga diterima baik oleh rakyat Maluku. Kebetulan waktu itu Maluku sedang konflik dengan orang-orang Portugis. Pelayaran dan perdagangan orang-orang Belanda di Maluku ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Dengan demikian semakin banyak kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Maluku. Uraian tersebut menunjukkan bahwa rakyat Indonesia senantiasa mau bersahabat dan berdagang dengan siapa saja atas dasar persamaan. Tetapi kalau para pedagang asing itu ingin memaksakan kehendak dan melakukan monopoli perdagangan di wilayah Nusantara tentu harus ditolak karena tidak sesuai dengan martabat rakyat Indonesia yang ingin berdaulat dalam hidup dan kehidupan termasuk dalam kegiatan perdagangan.[2]
Tujuan awal Belanda adalah untuk berdagang rempah-rempah, namun setelah mereka berhasil mendapatkan keuntungan melimpah serta menemukan daerah sumber rempah-rempah, Belanda mulai melakukan aksi monopoli perdagangan dan sejarah penjajahan Belanda di Indonesia pun dimulai.[3] Tahun 1596 awal penjajahan Belanda di Nusantara dengan mendirikan persekutuan dagang yang bernama VOC (Vereeningde Oost-indische Compagnie) atau persekutuaan dagang  India timur yang dibantu oleh pemerintahan Belanda. VOC menguasai dan mengekploitasi ekonomi di Indonesia dari tahun 1602 – 1799. Ketika terjadi peselisihan antara pangeran Jayakarta dan Banten dengan Belanda pada tahun 1619, kota Jayakarta dibakar oleh Belanda dibawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen. Tahun 1619 Belanda membangun kota di atas puing-puing Jayakarta yang diberi nama Batavia.
Kekuasaan Belanda tahun 1799 diambil alih oleh pemerintah Belanda dari VOC. VOC mengalami kerugian yang besar yang menyebabkan kebangkrutan dan dibubarkan. Sebelumnya penjajahan Belanda atas Indonesia dilakukan oleh VOC, sejak tahun 1799 secara resmi dilakukan oleh pemerintahan Belanda.
Berdasarkan Convention of London tahun 1814, Belanda berkuasa kembali di Indonesia setelah sempat sebelumnya tahun 1811 Inggris menyerang Hindia Belanda menaklukkan kota Batavia. Jendral Belanda Jansens menyerah tanpa syarat kepada Inggris. Tahun 1814 Inggris mengembalikan semua daerah jajahan Belanda ke pihak Belanda lagi.
Peristiwa ini karena kalahnya Napoleon Bonapoarte kaisar Prancis dalam pertempuran di Leipzing Inggris menyerahkan Indonesia pada Belanda pada tahun 1816  saat itu yang menjadi pemimpin Inggris di Indonesia adalah Letnan Gubernur Jhon Fendhal. Penjajahan dan eksploitasi manusia dan sumber daya alam manusia dimulai lagi oleh pemerintah Belanda. Sistem eksploitasi yang dilakukan oleh Belanda disebut sistem tanan paksa. Pada masa dimana modal modal swasta liberal masuk ke Indonesia dan masa penerapan politik etis.[4]

B. Pengaruh Kolonial Belanda Dalam Bidang Sosial Budaya di Indonesia
Pengaruh penjajah Belanda tampil misalnya dalam bentuk tertanam semakin kuatnya apa yang disebut mentalitas inlander. Pengaruh lain tampak dalam hal dikenalkannya pendidikan kepada kaum pribumi, bahasa, dan gaya hidup yang kebarat-baratan.
a.      Mentalitas Inlander
Secara harfiah, mentalitas Inlander berarti mentalitas orang pribumi Indonesia, yang dikonotasikan secara negatif sebagai orang mengidap rasa rendah diri akut (inferiority complex) serta menakar diri lebih rendah dibandingkan orang-orang atau bangsa-bangsa lannya. Mentalitas Inlander disebut juga mentalitas khas orang pribumi karena dianggap telah mendarah daging serta menjadi bagian dari pola hidup dan perilaku rakyat Indonesia. Mentalitas itu mendarah daging karena dirawat dan dikembangkan oleh sistem yang juga melahirkannya, yaitu sistem feodalisme.
Dalam rangka memperkuat mentalitas tersebut, Belanda menggolong-golongkan  penduduk Indonesia kedalam kelas-kelas sosial sebagai berikut:
•      Kelas pertama, terdiri atas orang Belanda dan Eropa.
•      Kelas dua, terdiri atas orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen).
•      Kelas tiga, terdiri atas orang pribumi (Inlander).
b.      Pendidikan
Sistem pendidikan Barat di Indonesia digarap oleh Belanda sejak abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia semakin banyak. Sistem pendidikan diselenggarakan oleh berbagai elemen, ada yang diselenggarakan oleh kelompok keagamaan dan adapula yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda sendiri. Perhatian pada pendidikan semakin tegas tatkala politik etis diberlakukan pada tahun 1911 melalui tokoh liberalnya, Th. Van Deventer. Sebelum Politik Etis, tujuan pembentukan sistem pendidikan Belanda bagi orang Indonesia sekedar untuk menyediakan tenaga ahli yang murah untuk mengerjakan administrasi kolonial. Kebijakan Politik Etis mereorganisasikan serta mengembangkan sekolah-sekolah baru pada semua jenjang pendidikan.
c.       Bahasa
Bahasa Belanda juga banyak memengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta bahasa-bahasa Nusantara lainnya.
d.      Gaya hidup
Penjajah Belanda juga membawa gaya hidup yang memengaruhi kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Karena itu, muncul istilah ‘gaya hidup kebarat-baratan’. Istilah westernisasi kiranya tidak terlalu tepat untuk menunjukkan gejala ini karena ‘gaya hidup Barat’ itu tidak disebarkan secara terencana dan sistematis, juga tidak memengaruhi secara mendasar hidup sebagian besar orang.
e.       Berkembanganya agama Kristen Protestan di Indonesia
Pada tahun 1617, parlemen Belanda yang disebut Staten Generaal menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal VOC serta Raad van Indie untuk bertanggungjawab menyebarkan agama Kristen dan mengajarkannya melalui sekolah-sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.[5]


[2] Sardiman AM, dkk, Sejarah Indonesia Kelas XI Kurikulum 2013, hal 16-18.
[3] Adi Sudirman, Sejarah Lengkap Indonesia, hal 250.
[5] http://vao07.blogspot.co.id/2016/07/kolonialisme-dan-pengaruhnya-terhadap.html. Diakses pada tanggal 10 Mei 2018 pukul 12.34 WIB.agai elemen, ada yang diselenggarakan oleh kelompok keagamaan dan adapula yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda sendiri. Perhatian pada pendidikan semakin tegas tatkala politik etis diberlakukan pada tahun 1911 melalui tokoh liberalnya, Th. Van Deventer. Sebelum Politik Etis, tujuan pembentukan sistem pendidikan Belanda bagi orang Indonesia sekedar untuk menyediakan tenaga ahli yang murah untuk mengerjakan administrasi kolonial. Kebijakan Politik Etis mereorganisasikan serta mengembangkan sekolah-sekolah baru pada semua jenjang pendidikan. c. Bahasa Bahasa Belanda juga banyak memengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta bahasa-bahasa Nusantara lainnya. d. Gaya hidup Penjajah Belanda juga membawa gaya hidup yang memengaruhi kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Karena itu, muncul istilah ‘gaya hidup kebarat-baratan’. Istilah westernisasi kiranya tidak terlalu tepat untuk menunjukkan gejala ini karena ‘gaya hidup Barat’ itu tidak disebarkan secara terencana dan sistematis, juga tidak memengaruhi secara mendasar hidup sebagian besar orang. e. Berkembanganya agama Kristen Protestan di Indonesia Pada tahun 1617, parlemen Belanda yang disebut Staten Generaal menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal VOC serta Raad van Indie untuk bertanggungjawab menyebarkan agama Kristen dan mengajarkannya melalui sekolah-sekolah dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.  
LihatTutupKomentar